Monday, February 29, 2016

Tiran

Hari ini aku belajar bahwa kemarahanku adalah hasil dari kekecewaan terhadap dunia. Aku ingin mengendalikan semua orang menurut keyakinanku. Aku ingin semua orang berpikir, berkata, bersikap, dan bertindak seperti yang kuinginkan. Dan aku merasa sakit jika mereka tidak seperti yang kuharapkan. Sebenarnya, cara berpikir seperti ini adalah cara berpikir seorang tiran. Seorang tiran ingin semua orang mengikuti maunya, dan begitulah sikap semua manusia di dunia ini. Bedanya tiran yang satu dengan yang lain adalah, ada tiran yang jadi penguasa dan memiliki alat, baik aturan, senjata, maupun media massa untuk memaksa orang lain agar mematuhinya, sedangkan yang lain adalah tiran-tiran kecil yang menjadi penindas di lingkungannya sendiri. Jika setiap orang mawas diri akan hal ini, maka pemaksaan kehendak kepada orang lain hanyalah menjadi tindakan kasih sayang yang berbuah dari ketulusan. Dan setiap orang perlu terus bergumul agar menyadarinya...


Groningen, 01:05 CET

Friday, January 29, 2016

Bola Mata

Rasanya aneh bahwa blogku ini namanya 'bola mata', ketika malam ini aku diingatkan kembali akan pentingnya bola mata. Sejak kecil, tanpa sadar kita menempatkan segala macam tujuan di dunia ini lebih tinggi daripada tubuh kita, termasuk bola mata, hingga pada suatu saat tubuh kita memberikan tanda bahwa ia sudah terlampau lelah bekerja. Belum lagi, kita juga sering lebih mementingkan benda-benda daripada tubuh kita sendiri. Mobil kita rawat, rumah kita bersihkan, piring kita cuci, tetapi kita cenderung mengabaikan rumah pertama kita, benda yang terdekat dengan kita, yaitu tubuh.
Pada usia tertentu barulah biasanya kita sadar, dipaksa sadar maupun tidak, bahwa tubuh kita lebih penting daripada semua itu. Mobil bisa ditukar, rumah bisa direnovasi, piring pecah bisa diganti. Tubuh kita sebaliknya, cuma satu, dan entah kenapa kita diajar untuk percaya bahwa mengorbankan tubuh adalah mulia demi tujuan yang besar, demi meraih impian.
Malam ini aku sendirian, mengakrabkan diri dengan tubuhku, bercakap-cakap dengan bola mataku. Aku katakan dengan jujur, bahwa aku telah memperbudaknya hampir seumur hidupku. Aku lupa betapa ia telah memberikan kenangan-kenangan indah yang tergambar di dalam kepalaku: Wajah keluargaku, sahabatku, dan cintaku. Betapa ia telah menyuguhkan matahari terbit dan tenggelam, pantai putih, langit biru, beningnya air, hijaunya pegunungan, dan berbagai rupa karya alam maupun manusia. Ia telah menunjukkan indahnya senyuman yang tulus, dan rupawannya seseorang yang penuh cinta. Untuk itu, tiada yang bisa kukatakan selain...


Maafkan aku, Bola Mata...Terima kasih untuk segalanya...


Groningen, 28 Januari 2016, 21:19 CET

Monday, January 25, 2016

Mamma Mia!

Hari ini waktu Indonesia bagian Barat adalah ulang tahun dari sahabatku yang sudah meninggal dunia karena kanker. Di sebuah stasiun televisi di Belanda sedang disiarkan film Mamma Mia!. Keduanya tampak tidak berhubungan, tetapi buatku tampak jelas garis penghubungnya.
Aku menonton film ini pertama kali di layar lebar, di seberang kantor sahabatku itu di sebuah pusat perbelanjaan, seusai jam kantor. Waktu itu aku sedang dalam keadaan tidak memiliki komitmen apapun. Aku sedang tidak bekerja, tidak sekolah, dan sedang mencari apa yang ingin kulakukan dalam hidupku.
Jika melihat kembali semua itu, sahabatku itu tampaknya telah memberikan waktunya selama beberapa tahun untuk menemaniku, tanpa aku sadari, hingga akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal dunia.
Tiada yang lebih indah daripada cinta yang dirasakan. Aku sendiri merasa itu yang kudapatkan darinya. Dalam setiap tahapan kehidupanku, selalu ada orang yang memberikanku cinta, untuk bisa melangkah pada tahap selanjutnya.


Terima kasih, sahabat, di mana pun kau berada sekarang...


Groningen 24 Januari 2016, 20:48 CET
Jakarta 25 Januari 2016

Sunday, January 24, 2016

Second Act

I just watched the closing act of Castle, the detective series on tv. The word 'second act', hit me. Yes, I didn't realize it previously. I did, fight back, and am doing my second act. Yes, it was a great thing, because I do not give up until I try whatever possible, and that's actually my real character. I would try to do my second act, third act, and so on, until the director says 'cut'. No, actually, until the curtain falls...


Groningen, 23 January 2016, 21:32 CET

Dicinta

Beberapa tahun yang lalu aku merasa kesulitan untuk merasakan bahwa aku dicinta. Aku dulu cenderung merasakan bahwa aku harus memberi, tetapi aku tak mampu merasakan apa yang orang lain berikan padaku. Hari ini aku belajar menerima cinta. Sobat terdekatku sekeluarga mengirimkanku 'big group hugs' dan aku merasakan bisa menikmati kebersamaan dengan teman yang baru kukenal. Aku juga merasakan cinta dari keluarga sahabat dekatku, dan...dari diriku sendiri. Aku merasa berterima kasih di dalam hati dan bersyukur bahwa aku telah sampai pada tahap ini, tahap di mana aku merasakan aku telah nyaman dengan diriku...sehingga aku pun paham arti dari..dicintai..oleh orang lain, maupun diriku sendiri...


Groningen, 23 Januari 2016, 21:07 CET

Friday, January 22, 2016

Ranking

Waktu mulai mengikuti Sekolah Dasar, aku tidak begitu paham sekolah itu buat apa. Buatku sekolah bertemu teman, bermain-main, sampai akhirnya aku mengenal kata ranking. Pertama kali aku mencapai ranking pertama di kelas adalah waktu kelas 4 SD. Sampai saat itu aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Bahkan, ranking tersebut kucapai tanpa aku sadari karena aku menikmati apa yang aku lakukan, yaitu bermain. Ya, aku bermain memecahkan soal matematika, aku bermain menggunakan bahasa Indonesia, aku bermain mengenal dunia.
Entah bagaimana, racun ranking itu mulai merasukiku. Bukan rankingnya yang ingin kukejar, tetapi aku mulai didorong oleh hawa nafsu menguasai. Aku ingin menguasai situasi, memahami segala persoalan, menemukan semua penyebab. Aku gelisah dalam ketidaktahuan, dan aku selalu ingin mengendalikan. Di situlah aku mulai kehilangan kedamaian dalam diriku, karena aku tidak terima jika tidak paham, dan takut dianggap bodoh.
Walaupun hingga kini aku tidak begitu memikirkan ranking, tetapi aku ingin dapat memiliki persepsi pada saat itu, ketika aku menikmati bermain dalam hidupku. Jika dengan bermain itu, pengetahuanku diakui di dalam secarik kertas, itu adalah bonus, bukan yang utama. Mengapa? Karena aku tahu siapa diriku, apa yang aku mampu lakukan, dan apapun kata orang, tidak akan bisa menghapus kenyataan itu.
Dunia telah berhasil merasukiku dengan kata ranking, meracuniku dengan pikiran ingin menguasai, menciptakan ketakutan dalam diriku bahwa aku berarti hanya jika aku diakui oleh orang lain. Kau tahu? Aku sekarang tidak mau diikat oleh itu semua. Aku ingat bahagianya aku ketika aku melakukan sesuatu sepenuh hati seperti ketika aku bermain. Tidak ada lagi yang lebih berharga ketika aku tidak dihantui oleh kata...ranking.


Groningen,  22 Januari 2016, 00:13 CET

Saturday, January 16, 2016

Belum Tentu Akan Terjadi Lagi

Kata-kata Yesus yang sering dikutip, dikhotbahkan, dan dibahas, mungkin salah satunya adalah ini:

"Jangan khawatir akan hari esok. Kesusahan sehari cukup untuk sehari".
Kalimat ini dilanjutkan dengan bagaimana kehidupan alam sekitar melimpah karena dipelihara oleh Tuhan tanpa perlu khawatir. Jika demikian, apalagi manusia, pasti akan dipelihara Tuhan. 


Kalimat ini mengandung kebenaran. Bukan hanya mengandung kebenaran. Kalimat ini benar. Dan karena benar, diucapkan berulang-ulang, kalimat ini menjadi klise. Telinga orang Kristen pada umumnya terbiasa mendengarya. Karena terbiasa, akhirnya pesan di dalamnya menjadi sesuatu yang kerap tidak lagi menyentuh dan bermakna.

Begitulah prosesnya, mengapa pada umumnya kalimat-kalimat di dalam kitab suci menjadi kehilangan kekuatannya. Biasa didengar, sehingga lupa apa artinya. Tidak lagi segar, baru, dan menggugah. 

Maka dari itu, apa yang aku lakukan biasanya adalah merenungkan kalimat yang sama yang ingin kurenungi karena merasa tergerak pada saat tertentu. berulang-ulang, dan bisa dalam jangka waktu bertahun-tahun, sampai pada satu titik, biasanya aku menemukan pemaknaannya buatku sendiri. Di situlah biasanya, kalimat yang sudah terdengar klise itu menjadi sebuah inspirasi kembali. 

Seperti hari ini, ketika aku mengulang kalimat "Jangan khawatir, susah sehari cukup sehari", aku seakan-akan menemukan kaitan kalimat itu dengan ungkapan kebenaran lainnya, seperti sisi lain dari uang koin yang sama: "Yang sudah terjadi biarkan berlalu". Dengan kata lain, yang sudah terjadi, tidak akan terulang lagi. Dalam situasi tertentu, dapat dikatakan, bahwa artinya adalah, yang sudah terjadi BELUM TENTU akan terjadi lagi. Jika pada hari ini sesuatu tidak berjalan dengan baik, besok hal ini sudah tidak terjadi lagi karena terjadinya har ini, dan belum tentu akan terjadi lagi di masa depan....

Aku pun terhenyak menyadari hal ini, dan aku menjadi memahami kalimat Yesus di atas dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Selama ini aku mencoba merenungkan kata-kata tersebut dengan membayangkan bahwa apa yang terjadi hari ini, selesai ketika aku mau tidur. Lepaskan, lupakan, jangan khawatir. Akan tetapi, banyak orang tidak menyadari, bahwa perasaan manusia tidak bisa dipaksa, dan tidak akan baik hasil akhirnya jika dipaksa, karena kita hanya akan menekannya di alam bawah sadar. Jadi, ketika khawatir, aku hanya membiarkannya dan mengakui perasaanku apa adanya.


Mengatakan: "Jangan khawatir" saja buatku belum pernah benar-benar berhasil. Namun, ketika aku menyadari bahwa: Hari ini hal yang tak enak, hal yang mengganggu, hal yang menyedihkan, hal yang membuat marah, hal yang memunculkan iri hati dan dengki, hal yang membuatku merasa tak mampu, hal yang membuatku merasa tidak berharga, hal yang membuatku putus asa, belum tentu akan terjadi lagi", maka dampaknya pada diriku menjadi berbeda. Pelan-pelan ketegangan dalam persaanku menjadi kendur dan aku pun bisa mengerti apa artinya: Jangan khawatir akan hari esok. Itu dia! Hari ini terjadi, besok belum tentu akan terjadi lagi. 


Sedetik pun, sesaat pun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi, dihadapi saja, dicoba, dijalani, dinikmati...karena hasil akhirnya kita sama sekali tidak tahu. Hari ini aku khawatir. Besok, belum tentu aku akan khawatir lagi, bukan...?  

Groningen, 15 Januari 2016, 22:22 CET  

Saturday, March 7, 2015

Have you ever...

Have you ever felt that the world wants you to be perfect? That you are wanted because people just want a piece of you? That people keep you because they need to be heard, helped, and understood? And they forget to ask you how you really feel?

And when there's so many things to be done, and at the same time you are not well, people still expect you to be stable?

While on the other side, you are not a type of person who likes to share your problems because you always don't want to bother people about your problem and sometimes even wish to be left alone?

 And because of that, people get the impression that there's nothing wrong in your life, that things are going smoothly, and you have got what you wanted and achieved your heart's desires?




Well, I can tell you, I am feeling like that at this moment...

 DAMN!

Saturday, October 25, 2014

MENGAWAS UJIAN

Aku bosan. Mengawasi wajah-wajah serius kaku menunduk menghadapi soal ujian dan lembaran jawaban putih bergaris yang dicetaki Makara UI yang katanya terbaik seantero negeri.
Aku jenuh. Berpikir ngalor-ngidul selana dua setengah jam saja waktu yang ditetapkan petinggi biro pendidikan FEUI untuk membuktikan apakah para mahasiswa yang mau menyelam di kolam perguruan tinggi mampu mengikuti standar baku dari kaum so-called akademisi yang akan terpampang di transkrip nilai pada suatu hari nanti
Aku muak. Terus-menerus memandangi korban pencekokan otomatisasi pabrik pencetak-pencetak buruh sistem ekonomi dunia yang mencoba menaikkan bargaining power mereka dengan memperindah record kapasitas otak yang akan membuat terkesan Si Bakal Pengguna tenaga mereka nantinya untuk mendongkrak nilai (uang) yang bakal diterima...

lucipard@18okt01-14.00wib

Tuesday, December 31, 2013

The Revolutionists



Fiction
The Revolutionists
By Elda Pardede

Only once you have a meaning
And then you die
Sekali berarti
Sudah itu mati
(Excerpt translated from “Aku” [or I], from Chairil Anwar, an Indonesian poet)

“You’re not coming?” I asked him and then pointed my finger to the classroom.
“No, I am not,” he said, and then walked away toward the canteen.
“Come, on, “I tried to persuade him, “Just for the requirement.” In our university, we were required to attend 75 percent of the classes of a certain subject. Only then we would be allowed to take the exam of that subject. Thus, I thought of dragging him to fulfill this.
“No, I am not,” he smiled and waved to me, “I need coffee.”
Well, I had tried. I always tried to convince him, but I failed many times. I did not know how to make him believe that sometimes you had to compromise your idealism a bit—just a bit—to be able to do what you thought was right, later in life…although every  time I thought of later in life, the words of Keynes, ‘and in the long run we all dead’[1] always popped up.
He did not realize that even another so-called idealist called him stupid. Stupid, because he did not do what was necessary for life: pursuing a degree? Yes, that bloody piece of paper that somehow was very important to determine a person’s life—‘apparently we ain’t so very free in this free world after all’.
But in my eyes, he was not stupid. And I always felt pity that he wasted his talents—Yes, my dear handsome friend, you did have great talents. While the rest of us in the class did not dare even to ask questions to those PhD guest lecturers, he just stood up, cool and calm, and challenged them. It was mostly about the assumption on the economic theories they used—and they had faith in, by the way, just like a religion—and you called them ‘Children of Capitalism’.
“Hahahaha….” I always laughed at this statement because, my friend, did you really think you were a son of socialism? Try to be a socialist in this world…..in this Hollywood-MTV world…
But I admired him a lot—Yes, I did, you damned charming guy. He was the only one who dared to stand up in front of some Professors while they were talking, raise up his hand, and said, “But, Sir and Madam, the part of our constitution we are talking about here right now is not about economy, but about social equality.” What an observation! What a thought! What a critical mind…
Well, he was one of the three that I always called, ‘The Revolutionists’: John, Paul, and George. (By now you should have guessed that I was a Beatlemania. And, of course, my name was Ringa[2]….). They were great companies when you wanted to talk about anything, from religion to flirting. They read a lot, they joked a lot, and they talked a lot about how to change the world.
Change the world…It sounded like a standard lip-service dream of a sexy Miss Universe. But I was a dreamer too…that was my reason to join them. In my deepest soul, I joined them, and I was a loyal member…
Somehow, it was a strange combination. I remember how Paul—he was the handsome and charming one—called our revolutionist combination ‘The Movement of Some Slow Students plus a Very Good One’.
Yes, I was the good student. I was a bit ashamed of that, because I felt that I was different; because I sounded not as revolutionist as them. Furthermore, they actually joined some kind of political movements. But I had been always a pacifist. I believed that I spoke more in writing than in front of a microphone. I was always shy to talk in public anyway…But still, they believed in me, even until now, when I joined the system, and became part of the system.
Yes, I had been now part of The System: system that saw you only as a tiny part of a big fat machine that found you useful only if you were productive. You just had to finish school early in this system—with good grades, of course. By doing so you made your parents happy because you were a good child, you made your teachers happy because you were a good student, and also you made the university happy because your good grades were a guarantee to get more grants—for teaching and academic capacity building, they called it—from those international funding organizations. No time for critical thinking, no politicking, no time for leadership building, no keeping in touch with your community, no training to use your heart—if it existed. You were valued by your productivity, not as being a person, a human, with a mind and a soul…
But, my dear revolutionist friends sounded happier about me joining this system than I was. They were very happy, for me
Yes, I did recognize their disappointment. I was like them. Imagined ‘when you were young and your heart was an open book’[3], you believed that after finishing university you would be able to take part in changing the world. You wished you could, but you drifted away while you found, university was just as bad as the other part of the world. It was not heaven. It was not a room full of people with pure intention to make the world a better place. I think only Michael Jackson has this pure intention…He did say, “Heal the world, make it a better place”.
Entering a university for us was like having a label as ‘Agent of change’. It was there. It was in the air. It was expected and it was heaven for bright idealistic young individuals. But as soon as you entered, then you found out that it was just one of the most respectable forms of hell. You were crushed by the fact that the academic world was also full of hypocrisy. You saw it slowly but clearly, that most of your classmates were just as hypocrite as those they cursed as corruptors. Your fellow students were only interested in money, power, position, and fame, just like those people…. And you got crushed in the middle, and you could not stand the waves…
But I still tried to convince them until the end, to ask them to bend their idealism a bit to be able to reach for something higher, later in life—and again, long live Keynes, his words ‘in the long run we all dead’ were able to haunt me every time I thought about later in life, the long run, or the future!!  I was always worried about them. And I was very pleased to see Paul decided to finish his study. I met him several times long ago when he was doing his drafts. Still, he said, “I am doing this only for my parents. They’ve been paying my tuition fees.”
Yes, Paul, that was the reason why you tried also to find part time job here and there, just to be able to finance your everyday life—and your cigarettes, of course!! That’s the only thing I hated about you, you bloody smoker!!
Slowly, George also joined the chorus. He also finished his thesis, and graduated. I met him several times, still busy as a revolutionist though!—‘Come on George, you don’t want to get settled: having a good job, and then earn money, get married, having children, and live normal, and life goes on…and on…and on like a wheel? Or you just wish once to have a meaning?’
But, John, oh, John! He was really broken hearted, by the system. He gave up, and he could not stand it anymore. He left his study, to maintain his purity, his idealism, and his soul. He could not sell his soul for a degree.
“Not me, my friend. I know you care, but I can’t do it!“ he said. He could not. For him it was like giving up to The Devil. Thus John decided to leave. He could not stand it, he could not face it, and he faded away ‘out of college, money spent, see no future, pay no rent, all the money’s gone, nowhere to go...but, oh—that magic feeling, Nowhere To Go…’[4].
And I missed them…All the three of them. I missed the nonsense talking chit-chat in the canteen that actually made the very sense after all. I missed Paul playing guitar and singing The Beatles’ songs with me—‘Don’t we just have good taste of music, Paul? Hahaha…‘ It felt more humane compared to an academic seminar room. Because we, (yes, I was part of a “we” now) in this academic world were more interested to have our names on journals and publications instead of helping the needs…….Or it was just my feeling of romanticism of being young and full of idealism?? And then later in the old days I regretted that I didn’t do what I could have done? Like someone said, ‘Rejoice, O young man, in thy youth; and let thy heart cheer thee in the days of thy youth, and walk in the ways of thine heart, and in the sight of thine eyes…but know thou, that for all these things God will bring thee into judgment’.[5]
 “I am sorry, John,” I later said to myself, “I am the one who has compromised and followed the system, and now I am almost buried by the system”.
I was not as strong as I thought. I was also deeply disappointed, hurt, and crushed. And then one day I saw all of them in my dreams. I saw their faces: John, Paul, and George. Paul was still with his charming figure talking at the front to attract his listeners. George was still busy with his underground political movement. John looked happy, because he followed his own heart, while I felt like I already betrayed mine long ago.
But John, your words keep me here, struggling, fighting, and surviving. I remember once you said, “My friend, we need a person like you, who is a revolutionist, but is also able to enter the system. Keep fighting, I would like to see you later as a person who can change the world.”
I was ashamed for what he said. I did not deserve his words. He was a real revolutionist, not I. I envied him…He was free like a bird. I also wanted to be free….’and what it is but fragments of your own self you would discard that you may become free’?[6]
I was not. I just had to compromise my heart for a degree—just to be heard, just to be known, just to be recognized. And I hoped I still do it for helping others later on, never to be swallowed by the system. Your words kept me here. Probably, later on in life…’and in the long run we all dead!!’…, until I saw once that my life had a meaning, and then I would die happily, wouldn’t I, my friend?

Dedicated to “The Revolutionists”

Groningen, June 12, 2005 2:34 AM



[1] John Maynard Keynes, economist whose theories were used to develop macroeconomic theory
[2] John, Paul, George, and Ringo were the members of The Beatles. If you read this footnote, shame on you!! You should know it by heart!!
[3]      Paul McCartney, ‘Live and let die’
[4] Lennon-McCartney, ‘You Never Give Me Your Money’, Abbey Road
[5] Ecclesiastes 11:9, King James Version
[6] Khalil Gibran, The Prophet

Sunday, September 16, 2012

TANPA HENTI

Jika kaupadamkan cahaya kehangatan jiwa Akan kusiapkan lilin yang menghangatkan Tanpa lelah Tanpa henti Bila kaurobek-robek bendera perdamaian Dengan sabar akan kusatukan dan kujahit Sehelai demi helai Tanpa lelah Tanpa henti Walaupun kausembur api kebencian Aku akan selalu menyiapkan segentong air Untuk memadamkannya Setetes demi tetes pun Tanpa lelah Tanpa henti Karena aku percaya, cinta tidak pernah gagal Dan cahaya keabadian dari Yang Maha Kuasa Jauh lebih kuat dari semua kebencian Dan kegelapan Dan kemarahan Selangkah demi selangkah Setetes demi setetes Sesaat demi sesaat Tanpa lelah Tanpa henti Sampai akhir nanti... Depok, 14 September 2012, 00:08 WIB

Wednesday, September 12, 2012

Menunggu jawaban

Tuhan, aku boleh 'kan meminta jawaban yang jelas dan gamblang? Bagaimana caranya aku mengajarkan sesuatu yang tidak aku percayai lagi? Aku tak percaya pendekatan ekonomi yang memperlakukan manusia sebagai obyek, tetapi aku harus mengajarkannya di ruang kelas.. Barangkali hal ini yang sudah menggerogotiku selama beberapa tahun terakhir... Dengan senang hati aku mengajarkan mengenai bagaimana meneliti, berpikir kritis, konsistensi dalam menggunakan konsep, definisi, dan tahu apa yang diukur.. Tetapi aku kesulitan mengajarkan teori yang tidak lengkap, yang hanya melihat sistem dari satu sisi, yang hanya melihat perilaku manusia dari satu cara pandang, dan yang hanya menekankan satu variabel penting dalam hidup... Tolong aku, Tuhan, mungkin itu masalah sebenarnya.. Tolong aku untuk menemukan jawaban, apakah ini untuk aku atau bukan.. Jika memang ini yang harus kutempuh, ajarkan aku kesabaran... Tetapi jika aku harus berhenti, bantu aku mengambil keputusan... Depok, 12 Sept 2012, 14:52 WIB Luciana

Wednesday, March 2, 2011

Some snapshots...

Religion:
I have a lifetime relationship with something we usually call God. Is it a religion?

Political views:
THE MOST NOBLE PEOPLE ON EARTH USUALLY REMAIN UNKNOWN

Wednesday, December 22, 2010

BICARA TENTANG IBU...

Hari ini Hari Ibu. Berarti entah kapan sekelompok orang sepakat untuk memberikan penghargaan yang tinggi kepada Para Ibu di mana pun Si Ibu berada. Buatku sendiri, simbol-simbol termasuk hari istimewa sudah lama tidak memberikan arti khusus, karena yang lebih nyata dan berarti adalah sikap dan apa yang kita lakukan sehari-hari. Tetapi aku menulis bukan untuk memperdebatkan hal ini, melainkan tentang sesuatu hal yang aku pikir sangat penting untuk dibagikan apa yang aku pahami tentang ibu, paling tidak yang aku yakini.

Mama atau Emak, itu Ibu buatku. Di telingaku konotasinya Emak berbeda dengan Ibu. Ibu seperti simbol buat gambaran tradisional perempuan yang sudah menikah dan punya anak: seseorang yang pandai masak, sabar (disabar-sabarin atau benar-benar sabar dari dalam?), dan pengasuh dari anak-anaknya. Yang di kepalaku Ibu yang sebenarnya adalah kata Emak: seorang perempuan luar biasa karena ia bijaksana, penuh kasih sayang, pemimpin yang handal, dan pekerja keras. Bisa dibilang Emaklah yang menginspirasiku untuk tidak pernah menyerah dan untuk mampu mengorganisasi berbagai macam hal.

Salah satu hal yang selalu aku syukuri yang Emak wariskan kepadaku adalah sifat Beliau yang jika sudah yakin akan sesuatu, tidak mudah untuk digoyahkan. Dan apa pun kata orang lain, Emak tidak peduli, selama yakin yang dilakukan adalah benar, Emak maju terus. Tetapi karakter ini, yang diwarisi kepada kami bertiga bersaudara adalah hal yang juga membuat Emak selalu repot. Kami bertiga bersaudara anak-anak Emak sudah terbiasa tidak bisa menerima pendapat orang lain begitu saja termasuk dari Emak jika alasannya tidak benar-benar kuat dan masuk akal.

Dan sikap ini dimulai karena Emak sejak dini sudah mengajak kami berdialog. Jika mau membeli sesuatu, Emak bertanya, "Untuk apa? Apa kamu benar-benar butuh?". Makanya kami terbiasa sekeluarga untuk membelanjakan sesuatu jika butuh. Jika ingin melakukan keputusan besar, Emak bertanya,"Apakah kamu yakin?" dan sejak remaja Emak sudah mengatakan ini kalau berbeda pendapat,"Menurut Mama sih begini. Menurut Mama loh. Kalau Elda pikir baik, lakukan saja." Tetapi untuk hal-hal yang substansial, Emak juga bisa sangat tegas.

Emak sejak kecil sudah menanamkan bahwa rincian-rincian tidak penting yang sering dianggap penting oleh orang di sekitar (nilai di rapor, prestasi, materi atau uang, status dan poisis) adalah benar-benar tidak penting. Sekali lagi: Benar-benar tidak penting. Yang diutamakan dalam hidup adalah kebijaksanaan dan kasih sayang. Dan hebatnya Emak, Beliau tidak menanamkannya dengan nasehat berpanjang-panjang seperti kebiasaan banyak orang tua di Indonesia (apalagi orang tua Batak yang hobi bicara tapi jarang mau berpikir dan merenung ;-P), tetapi dengan cerita; dengan menceritakan dongeng ala Batak yang didapat dari Kakekku (ayah Emak) dan mengajak kami sejak kecil merenung dan mengambil keputusan sendiri.

Waktu kecil aku sering heran melihat teman-temanku yang disuruh belajar atau dipaksa untuk masuk sekolah. Sejak kecil Emak selalu bilang, "Sekolah kan buat kalian sendiri, bukan buat Mama". Tidak pernah Emak memeriksa apakah aku sudah bikin PR atau nilai ujianku berapa. Bapakku pun bersikap seperti itu. Bahkan ketika aku terlalu serius belajar, Emakku malah mengganggu dan bilang, "Yuk, main-main yuk, main kartu (Remi) atau main halma" atau , "Sini ngobrol sama Mama". Suatu hari Emakku malah menyuruhku bolos dari sekolah supaya kami bisa jalan-jalan bersama. Belakangan aku tahu bahwa memang Emakku bijak mengajakku untuk break, karena Beliau sendiri sangat rajin belajar dan pada suatu titik menyadari, bahwa keseimbangan dalam hidup juga penting.

Apakah warisan Emakku yang paling berharga? Kebebasan. Itu dia.

Emakku bercerita bahwa hingga berusia 15 tahun, Beliau merasa hidupnya sangat bahagia karena bebas. Dan cara mendidik Kakekku pun mirip-mirip seperti yang dilakukan Emakku. "Manusia besar karena kasih sayang", kata Emakku waktu aku kecil. Dan Emak juga cerita "Ompungmu (=Kakekmu) dulu tidak pernah melarang, tetapi mengajak berpikir". Emakku anak yang super rajin belajar, rajin bekerja, berjiwa bebas, dan melakukan segala sesuatu karena Beliau suka, bukan karena diperintah. Dan inilah yang Emak coba terapkan kepada kami.

Sepertinya Emak berprinsip, untuk menjadi dewasa, seseorang harus berani mengambil keputusan-keputusan besar, dan berani menanggung konsekuensinya. Tidak karena dipaksa-paksa dan disuruh-suruh. Untuk itu diperlukan jiwa yang bebas. Hanya yang berjiwa bebas mampu jadi pemimpin, karena kalau tidak berjiwa bebas ia akan diperbudak oleh (pendapat, pemikiran, sikap) orang lain. Dengan demikian seseorang mestinya sudah dirangsang untuk berjiwa pemimpin sejak dini. Dan penjaga alamiah bahwa keputusan akan diambil atas dasar pertimbangan yang benar, adalah hati. Kasih sayang. Manusia yang besar dengan kasih sayang memiliki sinyal-sinyal di dalam hatinya dan kemampuan untuk merasakan bahwa keputusan yang diambil adalah benar. Sisanya yang mungkin dianggap penting oleh orang lain: prestasi, status, kekayaan, hanyalah pernak-pernik kehidupan yang tidak memberikan apa-apa kepada jiwa manusia.

Aku bebas, tidak dikekang, karena Emakku (dan Bapakku juga sebenarnya, tapi ini bukan hari Bapak jadi cerita Bapakku ditunda dulu) telah memperlakukanku sebagai manusia utuh sejak aku kecil. Aku dianggap seseorang yang berdaulat atas diri sendiri sejak dini. Perasaan dan pertimbanganku dihargai. Maka aku pun dengan alamiah menghargai perasaan dan pertimbangan orang lain. Aku menghormati keputusan-keputusan orang lain. Juga karena biasa dirangsang untuk berpikir sendiri, maka aku pun membebaskan orang lain untuk bersikap dan berpikir sendiri.

Banyak mungkin yang bingung, dan tidak setuju dengan cara ini karena menganggap bahwa anak mesti 'diatur' supaya bisa berperilaku benar. Diatur? Bukankah sangat indah jika si anak mampu melakukan sesuatu karena kesadaran, bukan karena diatur? Sampai kapan para orang tua ingin anak-anak mereka terus tergantung pada diri mereka untuk keputusan-keputusan penting dalam hidup? Orang tua (biasanya) akan duluan berlalu, dan lebih tinggi kemungkinan anak-anak yang akan tinggal untuk menjejakkan kaki dan menjelajah di bumi ini. Apakah bijak sebagai orang tua meninggalkan anak-anaknya tanpa memiliki jiwa nahkoda di dalam diri mereka? Terkatung-katung di samudera kehidupan, terseret-seret oleh arus dunia, terombang-ambing oleh beribu macam pendapat? Tidak mampu mengambil SATU PUN keputusan PENTING dan BESAR dalam hidupnya dan BERANI menanggung risikonya?

Aku tahu Emakku tidak sempurna. Benar-benar sadar akan hal ini. Keluargaku pun memiliki masalah-masalah sendiri yang unik dan sangat sangat sulit. Tetapi satu hal aku yakini, dan tentang ini aku tidak goyah sama sekali. Manusia besar karena cinta kasih dan kebijaksanaan. Cinta kasih adalah kebebasan dan kepercayaan. Jiwa yang bebas adalah jiwa yang bermartabat. Dan untuk hidup, itu adalah dasar segalanya. Dan Emakku adalah seorang Guru yang telah mewariskan hal ini. Sisanya, bahwa Emakku (kebetulan) pandai masak, bisa merawat anak-anak dengan baik, adalah hal-hal rinci tidak penting. Seperti kata Emakku, "Ah, kalau ada niat semua kan bisa dipelajari". Tetapi jiwa yang sudah rusak sulit untuk bisa diperbaiki...dan konsekuensi dari sikap, keputusan, dan perilaku dari orang-orang yang berjiwa rusak ini yang mesti ditanggung oleh sekelilingnya, dan terkadang sampai berabad-abad lamanya jika mereka menjadi pemimpin suatu organisasi agama yang besar maupun jadi pemimpin bangsa....Jadi, mau pilih yang mana?

Untuk EMAK-ku: Dame Sihombing

The more I tell your story, the more amazed I feel. You are wonderful: a professor (wiser than many scholars) without a title, a queen (a true leader) without a position, a great best friend one can ever have, and much more: a human being with a big heart and wonderful love...

Dan untuk Romo Mangun yang peduli akan pendidikan anak, semua orang tua yang berani mendidik dalam kebebasan*

*Salut untuk temanku yang Pemberani, angkatan 1995 FEUI Mimi (Tanti) dan Momo (Eko Eyang) yang mendidik anak dalam kebebasan. Eyang, tulisan ini juga adalah untuk menjawab kata-katamu "Kok ucapan selamat lu lain sendiri sih Da?" atas ucapan selamatku "Semoga tumbuh menjadi anak yang bahagia dan penuh kasih sayang" kepada Mudin yang baru jadi Bapak ...

Depok, 12 Desember 2010, 09:43 WIB. 

Saturday, December 11, 2010

Kal Ho Naa Ho..

Saat ini aku sedang menikmati waktuku sendirian dengan menonton DVD video clips kompilasi dari beberapa film Bollywood. Salah satu lagu yang paling aku sukai di dalam kompilasi ini adalah lagu berjudul Kal Ho Naa Ho. Aku merasa yakin bahwa walaupun tidak sepenuhnya mengerti artinya, pasti orang yang mendengarnya bisa menangkap keindahan dalam lagu tersebut.

Karena penasaran, dulu aku pernah mencari terjemahannya. Aku menemukan empat baris bait pertamanya yang terjemahannya seperti ini:

Life changes its beauty all the time
Sometimes it's a shade, sometimes life is sunlight
Live every moment here to your heart's content
The time that is here may not be there tomorrow


Keindahan hidup itu sesuatu yang bergerak, berubah, dan mengalir. Maka pesan terindah dari lagu ini adalah, hidup dalam setiap saat sepenuhnya, karena saat ini mungkin tidak terulang lagi...Buatku ini adalah salah satu pesan terindah kepada siapa pun, karena kita sering lupa dengan kenyataan yang adalah sekarang, selalu dibayangi masa lalu dan dihantui ketakutan akan masa depan...

Tetapi walaupun indah, lagu ini buatku menjadi seperti bagian yang terpisah dari keseluruhan cerita filmnya. Mengapa demikian? Sederhana saja. Seindah-indahnya pun lagu itu, aku tidak setuju sama sekali dengan apa yang dilakukan tokoh utama dari film di mana lagu ini menjadi salah satu andalannya. Ceritanya demikian. Seorang pria mencintai seorang gadis. Pria ini sakit parah dan kemungkinan akan segera mencapai ajal. Karena itu si pria ini berusaha dengan segala cara supaya si gadis yang ia cintai itu bisa menikah dengan pria lain sahabatnya agar si gadis tidak PERLU MENGHADAPI PENDERITAAN nantinya karena harus kehilangan dirinya karena kematian. Bayangkan! Dan itu disebut dan diterjemahkan banyak orang sebagai cinta...

Rasanya kalau sepintas pasti sepertinya pria ini mencoba menjadi pahlawan. Dan menurutku, betul, pahlawan yang bodoh. Dunia dipenuhi cerita khayal seperti ini bahwa seseorang mesti mengorbankan perasaannya sendiri dan keinginannya sendiri demi orang lain. Itu baru dibilang baik. Itu baru dibilang cinta. Itu baru dibilang berjasa dan perkasa. Tetapi buatku cerita semacam itu adalah omong kosong. Bagaimana seseorang yang merasa tidak bahagia bisa membahagiakan orang lain? Bagaimana seseorang yang tidak merasa puas bisa memuaskan orang lain? Tanggung jawab seseorang pertama-tama adalah untuk dirinya sendiri. Kalau ia bisa hidup dengan kepenuhan jiwa, maka tanpa sadar, secara alamiah, karena api keindahan menyala-nyala dalam dirinya, pasti ia akan bisa membawa keindahan buat orang lain. PASTI. Sekali lagi: PASTI. Aku sudah mengalaminya sendiri...

Sejak kecil kita dididik oleh sebuah ilusi bahwa kita mesti mengorbankan diri sendiri demi orang lain, baru kita patut disebut mulia. Kita mesti berkorban demi bangsa dan negara, demi teman, demi orang tua, demi keluarga. Tetapi pengorbanan macam apa itu? Rasa sesak? Rasa sakit? Rasa terpaksa dan terkekang? Rasa diperbudak dan dikuasai? Rasa takut nantinya menyesal kalau tidak berbuat sesuai dengan apa yang orang lain inginkan? Kalau memang itu namanya cinta, bukankah kita akan memberi dengan suka cita, melakukan dengan ikhlas, mencintai tanpa syarat? Bukankah cinta yang murni adalah rasa bebas tiada tara, keluasan tanpa batas, kedalaman tanpa dasar? Tidak sesak? Tidak sakit? Tidak menderita? Tidak terpaksa? Tidak takut atau pun khawatir?

Apakah kita mau terus-menerus menjadi seperti boneka yang tidak tahu bagaimana caranya hidup dikarenakan kepercayaan-kepercayaan bodoh semacam ini? Bukankah kita tersandera oleh emosi dan kehidupan orang lain, entah teman, keluarga, orang tua, organisasi, bangsa dan negara, seakan-akan kita bertanggung jawab akan perasaan, kehidupan, kebahagiaan, dan keberadaan orang lain? Bukankah itu kesombongan terselubung yang terpuaskan oleh rasa sakit (atau rasa puas) yang muncul karena merasa sudah berkorban demi orang lain? Bukankah itu seperti usaha mencapai impian menjadi pahlawan? Dan aku dulu adalah salah satu korban dari impian-impian semacam itu...

Maka aku sudah putuskan beberapa tahun yang lalu bahwa lebih baik TIDAK MENJADI PAHWALAN BAGI SIAPA PUN DI DUNIA INI daripada mesti hidup dengan cara demikian. Aku pun menulis ini dengan seulas senyum di bibirku karena geli dengan kebodohanku sendiri yang kupelihara bertahun-tahun sedemikian rupa. Jika Anda merasa bahwa apa yang aku tulis masuk akal, silahkan dipikirkan dan direnungkan. Jika tidak setuju, bagus, itu berarti Anda memiliki pendapat pribadi. Jika tidak peduli pada isinya, yah.....aku menulis untuk diriku sendiri. Kalau Anda kecipratan, ya syukur, jika tidak, ya sudah. Aku tetap bahagia. :-)

Depok, 20 Oktober 2010

Kutulis untuk Kanda-ku, semoga suatu hari kedamaian hati itu datang...

Saturday, September 18, 2010

SEBUAH CERITA

Aku adalah sebuah cerita..

Sebuah cerita mengetahui jalan ceritanya hanya ketika Sang Penutur menuturkannya.
Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa..

Sejauh ini, sebagai cerita,
aku pun tak mau tahu atau khawatir tentang apa yang akan terjadi,
karena walaupun akhir dari cerita penting buat Sang Penutur,
sangatlah tidak penting buat sebuah cerita.

Kisah yang telah dituturkan pun memiliki lembaran-lembarannya sendiri yang sudah tertutup.

Maka aku, sebagai sebuah cerita, sekelompok untaian nada,
serangkaian kisah, rajutan syair, hanya perlu menunggu,
dan suatu saat akan menari mengikuti uraian Sang Penutur,
dan tenggelam di dalam lautan hasrat cinta Seorang Penyair...

-Cikarang, 1 Juni 2010-

LESSON FROM YESTERDAY MORNING...

I HAVE LEARNED THAT WHAT I HAVE BUILT IN DAYS COULD BE DESTROYED BY OTHERS IN SECONDS...

*A sad day for Lucy in the sky with diamonds...

Saturday, May 29, 2010

Penyembuhan, bukan pembalasan…*

Kemarin, Jum’at 28 Mei 2010 adalah waktu yang istimewa buat umat Buddha yang merayakan lahirnya Siddharta Gautama. Saya pribadi sangat menghormati pribadi Siddharta. Sewaktu pertama kali membaca kisah hidupnya, saya bertanya-tanya: “Apa yang terjadi dalam hati dan pikiran Siddharta, yang membuatnya mau meninggalkan segala sesuatu yang dicari dan dituju oleh kebanyakan manusia di dunia ini: Kemapanan, Kekuasaan, Kekayaan, Ketenaran?”

Apa yang terjadi di dalam hatinya??

Nabi Isa atau Yesus pernah mengisahkan bahwa Kerajaan Allah adalah seperti mutiara, yang membuat kita mau meninggalkan SEGALANYA demi mutiara tersebut (Matius 13:45-46). Mungkin itulah yang diperoleh Siddharta di hatinya di bawah pohon Bodhi, sebuah MUTIARA

Mutiara yang bernama cinta kasih, yang menghasilkan penyembuhan, bukan pembalasan…

Selamat Hari Raya Waisak….

============================================================
PENYEMBUHAN, BUKAN PEMBALASAN…

*Ditulis 12 Mei 2009, dimodifikasi 29 Mei 2010

Hari ini entah kenapa tiba-tiba wajah Gandhi (tepatnya wajah Ben Kingsley sebagai Gandhi yang saya lihat di film) sehabis ditembak muncul di benak saya. Seluruh pengalaman batinnya seperti datang dan menggema di hati dan di pikiran saya. Bagaimana perasaannya ketika dibunuh oleh salah seorang dari bangsanya sendiri yang jelas-jelas ia kasihi? Saya rasa sampai matinya pun ia memandang pembunuhnya dengan cinta dan pengertian. Walaupun, menurut saya, tetap ada rasa sedih. Sedih karena pembunuhnya yang ia cintai tidak mengerti bahwa ia mencintainya dan bagaimana ia hanya menginginkan kesejahteraan dan kebaikan buat Si Pembunuhnya. Sedih…

Saya teringat pula salah satu adegan dalam film Gandhi tersebut yang membuat saya menangis terharu, yang menggambarkan bagaimana Gandhi berjuang untuk penyembuhan, bukan pembalasan. Ada seorang pria Hindu bernama Nahari yang datang kepada Gandhi di kala konflik berdarah antara Hindu dan Muslim sedang terjadi yang menyebabkan India akhirnya terbagi menjadi India dan Pakistan:

Nahari: I'm going to Hell! I killed a child! I smashed his head against a wall.
Gandhi: Why?
Nahari: Because they killed my son! The Muslims killed my son!
Gandhi: I know a way out of Hell. Find a small boy, about this high, whose parents have been killed, and raise him as your own. But make sure he is Muslim, and raise him as one.

Nahari, seorang Hindu, dianjurkan Gandhi untuk membesarkan seorang anak Muslim sebagai Muslim, sebagai jalan penyembuhan dari luka di dalam dirinya karena konflik berdarah antar (penganut) agama yang menyebabkan anaknya yang Hindu dibunuh dan yang ia balas dengan membunuh seorang anak Muslim….


……Penyembuhan, bukan pembalasan…..

Berat, karena kita ingin aksi keras terhadap ketidakadilan, dan ingin merasa puas karena ada pihak yang dapat dipersalahkan dan ’dijagal’ untuk rasa marah dan kecewa yang kita rasakan. Anthony de Mello, seorang pastor Jesuit berkebangsaan India pernah berkata, ”Jika engkau ingin melakukan sesuatu, apa pun itu, janganlah lakukan untuk menghapuskan kemarahanmu, (kekecewaanmu, kesedihanmu, ketakutanmu, kekhawatiranmu, kegelisahanmu) tetapi lakukanlah dari hati yang penuh kedamaian”. Hati yang penuh kedamaian.


……Penyembuhan, bukan pembalasan…..

Bangsa kita butuh penyembuhan, bukan pembalasan. Pada zaman kolonial Belanda, politik yang diterapkan oleh pemerintah Belanda adalah membedakan etnis Tionghoa dengan yang lainnya. Budaya yang dirancang ini dilanjutkan di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan terus terbawa-bawa hingga kini. Sewaktu zaman kepemimpinan Gus Dur, sepengamatan saya, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa ini adalah salah satu yang dicoba untuk di’lelehkan’. Terlepas dari apakah menurut Anda atau saya Gus Dur pemimpin yang baik atau tidak (tulisan ini bukan ditujukan untuk itu) yang dilakukan di sini adalah penyembuhan, bukan pembalasan. Rekonsiliasi...pemulihan...penyembuhan...bukan jagal-menjagal.


……Penyembuhan, bukan pembalasan…..

Gagasan yang sulit, karena kita selalu ingin menghukum orang yang melakukan kejahatan. Dan tanpa sadar hal itu sering (dan mungkin hampir selalu) kita lakukan hanya untuk memuaskan emosi kita. Kita ingin ’membunuh, menghajar, dan menghukum’ pembunuh, pemerkosa, dan pencuri seberat-beratnya agar hati kita puas, dan karena itu tanpa sadar kita juga telah melakukan kejahatan yang sama.

Tetapi lihatlah bagaimana sepanjang sejarah manusia kita selalu bersusah payah berjuang untuk merajut apa yang dengan mudahnya dirobek dan dicabik-cabik? Jika ada perbedaan pemikiran sedikit saja, kita (manusia) lalu dengan mudah mencap satu sama lain dengan label tertentu, menimbulkan konflik yang tidak perlu, dan bertengkar, berkelahi, dan di beberapa wilayah tertentu sampai saling membunuh dan menumpahkan darah....dan di sinilah terlihat bagaimana kita belum dewasa...benar-benar belum dewasa...


……Penyembuhan, bukan pembalasan…..

Nelson Mandela pernah sangat dikritik oleh beberapa orang kulit hitam di negaranya ketika menerapkan penyembuhan dan bukan pembalasan kepada orang-orang kulit putih yang menerapkan politik apartheid. Dia hanya menginginkan polisi atau tentara kulit putih yang pernah menganiaya orang kulit hitam mengaku bersalah (hanya mengaku!) di depan publik, dan mereka tidak akan diadili dan tidak akan menerima hukuman (dari Philip Yancey, Rumors of another world, 2003). Sudah. Titik. Banyak yang mungkin tidak mengerti bahwa Nelson Mandela ingin penyembuhan, bukan pembalasan. Banyak yang mungkin berpikir: Ini tidak adil!! Tetapi Nelson Mandela, yang pernah bertahun-tahun dipenjara itu, begitu yakin akan hal ini walaupun banyak yang mungkin tidak puas dengan apa yang ia lakukan. Dugaan saya, karena dia merasakan bagaimana bebasnya perasaannya tidak memiliki rasa balas dendam sedikit pun kepada yang memenjarakannya...


Sekali lagi: Penyembuhan, bukan pembalasan

Salah satu cerita yang paling indah dan menyentuh buat saya adalah apa yang saya kutip berikut ini dari Doa Sang Katak 2 (Anthony de Mello, hal. 105):

Pada suatu ketika, Buddha diancam akan dibunuh oleh seorang penjahat yang bernama Angulimal.

”Kalau demikian, saya minta engkau mengabulkan keinginan saya yang terakhir, ”kata Buddha. ”Potonglah dahan pohon itu.”

Satu tebasan pedang cukup untuk memotongnya! “Apa lagi?” kata penjahat itu.

”Kembalikan dahan itu ke pohonnya, ” kata Buddha.

Bandit itu tertawa, ”Engkau gila. Kaupikir ada orang yang dapat melakukan hal itu ?”

”Sebaliknya. Engkaulah yang gila. Engkau merasa diri berkuasa karena dapat melukai dan menghancurkan. Itu pekerjaan anak-anak. Orang yang sungguh berkuasa tahu cara menciptakan dan menyembuhkan.


Penyembuhan, bukan pembalasan...


Cikarang, Bekasi

Sunday, February 28, 2010

Life Itself Has Become Our Love Story*

I heard your voice long long ago,

Then I saw the sunset
The sky painted the beauty of your face

Since then,
I am yours
Have been yours
And will always be yours....

And life itself has become our love story....

I love you...

*To celebrate the end of my silent month...

Wednesday, December 30, 2009

PULANGLAH, KAKEK*


Pulanglah, Kakek, pulanglah
Pulanglah ke tempat di mana kau semestinya
Di Ciganjur
Bersandal jepit
Beruntaikan sarung
Bersandar di sisi meja
Berdupakan aroma kebebasan

Kau tak mampu hidup di istana
Istana penuh dengan kemunafikan
Kau tak sanggup tidur di istana
Istana penuh tipu daya
Kau tak ‘kan bisa diam di istana
Istana penuh nista

Pulanglah, Kakek, pulanglah
Jangan pedulikan cucu-cucumu yang bodoh itu
Tak pahami keluasan pikiranmu
Tak mengerti kedalaman kebijakanmu
Tak menangkap pengajaranmu
Tak mendengar dongengan indah pengantar tidurmu

Pulanglah, Kakek, pulanglah
Cukup sudah kau dihina
Setelah sebelumnya dipuja-puja
Dan disanjung bagaikan raja
Setelah sebelumnya dirangkul-rangkul
Dan dipatuhi bak panglima

Pulanglah, Kakek, pulanglah
Aku tak rela kau digiring para penjagal
Aku tak sudi kau dilalap api kebencian
Aku tak mau kau dirajam batu kebodohan

Pulanglah, Kakek, pulanglah
Tatap kami dari jauh
Doakan kami dengan sungguh
Dalam linangan air mata, demi bangsamu

Dedicated to Gus Dur, our Semar….


Depok, 29 Juli 2001, 22.45 WIB


*Tulisan ini dibagikan dalam rangka turut berduka cita atas wafatnya K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4. Seperti status saya di Facebook yang didedikasikan buat Gus Dur:


"Presiden paling nyleneh sedunia, tak ada duanya. Tidak takut pada siapa-siapa, karena jiwanya bebas! Gus Dur, seorang Kristen Yahudi yang Muslim, paling tidak di mata saya...(Secara tiga-tiganya berasal dari akar yang sama, mengapa bertengkar terus?)."